Adab Berbicara, Mendengar, dan Berdebat dalam Islam

December 24th, 2008 by ipin4u

ADAB BERBICARA

1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:

“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)

2. Tidak memotong/memutus pembicaraan

3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi

9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

Sumber: http://www.al-ikhwan.net/index.php/fiqh-shahwah/2006/adab-berbicara-mendengar-dan-berdebat-dalam-islam/

An Affair of the Mind: Giving Up Pornography

November 26th, 2007 by ipin4u

By:  Abdul Lateef Abdullah

Writer, Counselor – Malaysia

In a question received through Cyber Counselor, a husband said he has a great wife, who is attractive but whom he is not attracted to. Albeit he is a religious man, his addiction to pornography has molded a type of woman other than his attractive wife’s. Pornography can quite literally become a god, which connotes shirk.

Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) told us that those with addictions in this life will be resurrected as idol worshippers. Pornography has become a major problem among the Muslim men. It destroys marriages, families, and the lives of those indulging in it.

On the surface, addiction to pornography appears to be harmless because of ignorance of psychology and of the fact that images — especially those of sex — stay in minds and create a suggestive effect in the human self, stimulating a desire for something that is, of course, illicit. For example, David Morgan (in Marriott, 2003), a clinical consultant, psychologist, and psychoanalyst who counsels men with a history of sexual violence, stated,

The more time you spend in this fantasy world [pornography], the more difficult it  becomes to make the transition to reality.

Pornography has thus created an entire "other" world — a fantasy world — that is so strong and powerful that it can form "whispers" in the mind. These whispers can lead to zina (Arabic for: illegitimate sexual intercourse) and fornication. So much for "harmless" pornography! One can allow that monster to destroy his or her life or to get control of it once and for all.

There is clearly something missing in one’s life when assuming that pornography can fill the void that can actually be filled by legitimate intimacy and love. The more one becomes addicted to pornography, the more the void in the heart becomes widened, the void that one tries so hard to fill.

The emptiness increases, the despair widens, and the lack of control over one’s life intensifies. One can never fulfill the need for real intimacy and love with porn, when his or her lower self has its way that finally leads to a desire to commit zina.

Temporary sexual gratification through sex is not going to help. A husband who is addicted to pornography lives an illusion that steals him away from his wife. When love of Allah is achieved, all one can feel is love and the void is thus filled. Only then will there never be any need for resorting to vices for a quick–fix solution.

Quick-fix solutions are exactly what drug addicts go after: They seek quick fixes to deal with the void they have inside. Addiction is just a means for covering up the deep pain an addict feels inside. That is what an addict to pornography has to address in the long term if he or she is ever going to really get past this addiction.

One needs to do everything to make pornography inaccessible to him or her in whatever form it takes. One should always remember that Almighty Allah rewards sincerity. Sincerity is a prerequisite for answering prayers. It should be translated into struggle against sin and sacrifice for the sake of virtue.

Think of drug or alcohol addicts who go into rehabilitation. They must first go through a period of detoxification. That is the kind of sacrifice that is required by an addict to overcome such toxins.

We cannot expect Allah to help us change to the better without a sincere commitment from ourselves to do that.

Allah says,

{surely Allah does not change the condition of a people until they (first) change their own condition.} (Ar-Ra`d 13:11)

We have to clean our hearts of pornography idols that keep us away from the real and full life of Islam.

References: "Prefer Pornography to My Wife." IslamOnline.net. 16 Oct. 2007. Accessed 18 Nov. 2007.

________________________________________

Abdul-Lateef Abdullah is an American convert to Islam. He holds a bachelor’s in political science and economics from the University of Delaware, a master’s in social work from Columbia University, and recently earned a doctorate from the Institute for Community & Peace Studies, Universiti Putra Malaysia, in the field of youth studies. He has worked as a Program Assistant for the Academy for Educational Development (Washington, DC); and with the Taqwa Gayong Academy (New Jersey, USA and Penang, Malaysia) for troubled youth, both Muslim and non-Muslim.

Source: http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1195032382585&pagename=Zone-English-Family%2FFYELayout

My Latest Fiction Story

November 26th, 2007 by ipin4u

10150972_galPlease check out my new fiction story.

I post it at www.myquran.org (an Indonesian Muslim Community site), Seni dan Budaya Islam Forum. My ID there is ipin4u.

You can check it out also at my Multiply account (genkeis.multiply.com), just go to the address written below to see all of my fiction story at my MP.

http://genkeis.multiply.com/tag/fiksi

Title:

# 1. Bila Momongan Tak Kunjung Datang

# 2. Maaf Akh, Saya Tidak Bisa Menerimamu

# 3. Kegigihan adalah Nafas dari Cinta

# 4. Gara-gara Ikhwan Gang Kelinci

# 5. Berikan Aku “Madu”

# 6. The Princess of the Ring

# 7. Ketika Cinta Harus Menang

# 8. Ujian Cinta

# 9. Perahu Cinta di Tengah Badai

# 10.    Labuhan Hati

The unique part of my fiction story is that some of my cerpens are linked each other. The story number #2 is continued to #3 than to #7 than to #8 to #9 and than to the last one #10.

All of that cerpen are written in Bahasa Indonesia except # 6, “The Princess of the Ring”, it is written using English. That cerpen is inspired by mas Dhanny, my MP friends blogs, he is a writer at FLP (Forum Lingkar Pena), and inspired also by LOTR (Lord of The Ring) movie.

Rasio (Perbandingan) Jenis Kelamin (Laki-laki-Perempuan) Penduduk Indonesia

November 26th, 2007 by ipin4u

Sekedar sharing informasi, banyak orang yang bilang bahwa jumlah wanita itu lebih banyak dari jumlah lelaki… itu adalah anggapan yang (bisa jadi ) keliru… karena angkanya ngga jauh beda, bahkan jumlah pria lebih banyak dari wanita. Ada tren/kecenderungan peningkatan rasio.

Check out potongan informasi berikut

Sumber: http://www.bps.go.id/sector/population/Pop_indo.htm

ULASAN SINGKAT NASIONAL

HASIL SENSUS PENDUDUK TAHUN 2000 

I. PENDAHULUAN

Sensus Penduduk 2000 merupakan sensus penduduk yang ke lima yang diadakan setelah Indonesia merdeka. Sensus penduduk pertama diadakan pada tahun 1961, kedua tahun 1971, ketiga tahun 1980, dan keempat tahun 1990. Di dalam Sensus Penduduk 2000, semua penduduk yang berdomisili di wilayah geografis Indonesia, baik yang bertempat tinggal tetap maupun yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap (tuna wisma, awak kapal yang berbendera Indonesia, penghuni perahu/rumah apung, masyarakat terpencil dan pengungsi) dicacah secara serentak mulai tanggal 1 Juni 2000 sampai dengan 30 Juni 2000. Warga negara asing, kecuali anggota korps diplomatik beserta keluarganya, juga ikut dicacah.

Cara pencacahan yang dipakai dalam Sensus Penduduk 2000 adalah kombinasi antara de jure dan de facto. Bagi mereka yang bertempat tinggal tetap dipakai cara de jure, yaitu dicacah di tempat mereka tinggal secara resmi, sedangkan untuk yang tidak bertempat tinggal tetap dicacah dengan cara de facto, yaitu dicacah di tempat mereka ditemukan oleh petugas lapangan sensus. Bagi mereka yang mempunyai tempat tinggal tetap, tetapi sedang bertugas lebih dari enam bulan, tidak dicacah di tempat tinggalnya; mereka dicacah di tempat tugasnya. Sebaliknya kalau ada seseorang atau keluarga menempati suatu bangunan belum mencapai enam bulan tetapi bermaksud menetap disana, mereka dicacah di tempat itu.

Rasio Jenis Kelamin

Dari total penduduk sebanyak 206 264 595 orang, sebanyak 103 417 180 orang laki-laki, sedangkan selebihnya yaitu 102 847 415 orang perempuan. Rasio jenis kelamin atau sex rasio penduduk Indonesia adalah sebesar 100,6, yang berarti proporsi penduduk laki-laki lebih banyak dari proporsi penduduk perempuan. Bila dilihat pola sex rasio dari tahun 1971 ke tahun 1990, memang sex rasio bergerak mendekati 100, bahkan di tahun 2000 sudah di atas 100. Sex rasio sebagian besar propinsi sudah di atas 100, seperti: Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

Ada tiga propinsi yaitu Bali, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara yang mengalami perubahan pola rasio jenis kelamin bila dibandingkan dengan tahun 1990. Pada tahun 1990, rasio jenis kelamin propinsi Bali tercatat sebesar 99,5, sedangkan pada tahun 2000 mencapai 101,0. Rasio jenis kelamin di propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 1990 adalah 99,6, naik menjadi 100,5 di tahun 2000, serta rasio jenis kelamin propinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1990 adalah sebesar 99,7 dan pada tahun 2000 menjadi 100,7.

Tabel Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin, 1980-2000

Propinsi

Penduduk (000)

Rasio Jenis Kelamin

2000

1980

1990

2000

L

P

L+P

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

11 Nanggroe Aceh

Darussalam

1 975 434

1 955 471

3 930 905

101,5

101,1

101,0

12 Sumatera Utara

5 818 855

5 830 800

11 649 655

100,7

99,8

99,8

13 Sumatera Barat

2 081 910

2 167 021

4 248 931

95,5

95,9

96,1

14 Riau

2 532 111

2 425 516

4 957 627

104,0

105,2

104,4

15 Jambi

1 231 517

1 182 329

2 413 846

105,7

104,3

104,2

16 Sumatera Selatan

3 466 942

3 432 733

6 899 675

102,0

101,2

101,0

17 Bengkulu

795 972

771 460

1 567 432

103,2

105,6

103,2

18 Lampung

3 472 476

3 268 963

6 741 439

107,3

105,5

106,2

19 Kep. Bangka

Belitung

458 905

441 292

900 197

-

-

104,0

31 DKI Jakarta

4 245 606

4 143 837

8 389 443

102,6

102,0

102,5

32 Jawa Barat

18 051 784

17 677 753

35 729 537

96,6

100,5

102,1

33 Jawa Tengah

15 555 048

15 673 892

31 228 940

96,2

97,5

99,2

34 D.I. Yogyakarta

1 547 366

1 574 902

3 122 268

95,5

96,7

98,3

35 Jawa Timur

17 206 778

17 576 862

34 783 640

97,4

96,0

97,9

36 Banten

4 079 211

4 019 569

8 098 780

-

-

101,5

51 Bali

1 583 552

1 567 610

3 151 162

98,4

99,5

101,0

52 Nusa Tenggara

Barat

1 944 436

2 064 825

4 009 261

98,3

95,5

94,2

53 Nusa Tenggara

Timur

1 961 894

1 990 385

3 952 279

99,6

98,3

98,6

61 Kalimantan Barat

2 063 041

1 971 157

4 034 198

103,5

103,8

104,7

62 Kalimantan Tengah

959 121

897 879

1 857 000

106,3

106,6

106,8

63 Kalimantan Selatan

1 496 179

1 489 061

2 985 240

94,9

99,6

100,5

64 Kalimantan Timur

1 284 536

1 170 584

2 455 120

96,9

110,9

109,7

71 Sulawesi Utara

1 029 916

982 182

2 012 098

102,3

102,7

104,9

72 Sulawesi Tengah

1 13 4763

1 083 672

2 218 435

106,4

105,1

104,7

73 Sulawesi Selatan

3 928 244

4 131 383

8 059 627

94,9

95,5

95,1

74 Sulawesi Tenggara

913 870

907 414

1 821 284

96,9

99,7

100,7

75 Gorontalo

419 582

415 462

835 044

-

-

101,0

81 Maluku

611 035

594 504

1 205 539

104,4

103,8

102,8

82 Maluku Utara

401 517

383 542

785 059

-

-

104,7

94 Papua

1 165 579

1 055 355

2 220 934

109,3

110,5

110,4

INDONESIA 

103 417 180 

102 847 415 

206 264 595 

98,8 

99,4 

100,6 

Catatan: Termasuk Penduduk Tidak Bertempat Tinggal Tetap

Bolehkah Akhwat Melamar Ikhwan? Boleh… boleh… boleh… :)

November 26th, 2007 by ipin4u

LogoTsabit al Bunnani berkata, “Aku berada di sisi Anas, dan di sebelahnya ada anak perempuannya. Anas berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW. Menawarkan dirinya seraya berkata, “Wahai Rasulullah apakah engkau berhasrat kepadaku? (dan di dalam satu riwayat(1), wanita itu berkata, “wahai Rasulullah, aku datang hendak memberikan diriku padamu). Maka putri Anas berkata, “Betapa sedikitnya perasaan malunya, idih… idiih”. Anas berkata, “Dia lebih baik dari pada engkau, dia menginginkan Nabi SAW. Lalu menawarkan dirinya kepada beliau. (HR Bukhari)(2)

Bukhari membuat hadits ini di dalam bab “wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang saleh”. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Diantara kejelian Bukhari ialah bahwa ketika beliau mengetahui keistimewaan wanita yang menghibahkan dirinya kepada laki-laki tanpa mahar, maka ia meng-istimbat hukum dari hadits ini mengenai sesuatu yang tidak khusus, yaitu diperbolehkan baginya berbuat begitu. Dan jika si laki-laki menyukainya, maka bolehlah ia mengawininya” .(3)

Dan Ibnu Daqiqil ‘Id berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan diperbolehkan wanita menawarkan dirinya kepada orang yang diharapkan berkahnya” .(4)

Di dalam syarahnya, Ibnu Hajar menambahkan penjelasan terhadap cara peminangan ini, katanya, “Dan di dalam hadits ini terdapat beberapa faedah antara lain bahwa orang yang ingin kawin dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya itu tidak tercela, karena mungkin saja keinginan tersebut akan mendapatkan sambutan yang positif, kecuali jika menurut adat yang berlaku yang demikian itu pasti ditolak, seperti seorang rakyat jelata hendak meminang putri raja atau saudara perempuannya. Dan seorang wanita yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya dari pada dirinya juga tidak tercela, lebih-lebih jika dengan tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin karena kelebihan agama laki-laki yang hendak dilamar, atau karena suatu keinginan yang apabila didiamkan saja akan menyebabkannya terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang” .(5)

Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh salah seorang teman dari Al Jazair, bahwa ketika ia berkunjung ke Mauritania, ada seorang wanita yang datang kepadanya menawarkan diri untuk kawin dengannya. Ketika dia merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak anda untuk berbuat yang haram? Aku hanya mengajak anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan RasulNya…”. Maka berangkatlah kami ke qadhi (pengadilan), dan terjadilah akad nikah dengan dihadiri dua orang saksi.

1)  Al Bukhari. Kitab An Nikah, bab an nazhar ilal marah qablat tazwij
2)  Al Bukhari. Kitab An Nikah, bab ‘ardhul mar’ah nafsaha ‘alar rajulish saleh
3)  Fathul Bari
4)  ‘Umdatul Ahkam
5)  Fathul Bari


(isi tulisan ini berasal dari buku “Kebebasan Wanita”, jilid ke 3, karya Abdul Halim Abu Syuqqah, terbitan Gema Insani Press, 1999, Jakarta)

How Does the Heart Fast?*

September 15th, 2007 by ipin4u

Heart
By Aa’id Abdullah Al-Qarni

[And if anyone believes in Allah, Allah guides his heart] (At-Taghabun 64:11)

Having a guided heart is the basis of all guidance, the secret of all success, the origin of every good deed, and the core of every action. Illuminating this fact, The Prophet said

Truly there is a piece of flesh in the body which if it should be wholesome, the whole body will be healthy, and if it should be corrupt the whole body will be corrupt. Truly it is the heart.

Thus the goodness of your heart is the guarantee of your happiness in this world and in the hereafter. Likewise, the heart’s corruption is the surest way to destruction.

The heart of the believer fasts during Ramadan and in the whole year. The fasting of the heart is done by purifying it from all sorts of corruption, including the different forms of shirk (associating others with Allah), false beliefs, evil suggestions, filthy intentions, and degenerate thoughts.

The believer’s heart is adorned with the love of Allah. It shines like the sun and increases in faith whenever the believer listens to the verses of the Qur’an. It grows in conviction when it contemplates its verses, and increases in guidance when it reflects on its provisions.

O Allah, guide our hearts to the straight path!

*Excerpted with some modifications from www.discover-islam.com.

Aa’id Abdullah Al-Qarni is a prominent Saudi scholar and da`iyah. He has made many audio lectures and a number of TV programs. He has a doctorate in Hadith.

My New Site at Multiply

September 12th, 2007 by ipin4u

Multiply20logoDear all my beloved friends,
Beside of at Friendster (FS), I also have a new networking website at Multiply (MP). Please have it looked. Its address is at:

genkeis.multiply.com

So what is the difference between my MP and FS blogs?
Not much different I think, it just I use English mostly at FS blogs, while I (mostly) use Indonesia in my multiply.

Hope by the existence of MP, we can strengthen our ukhuwah (brotherhood), especially for people that have an MP account also.

Salam ukhuwah :)

Jatuh Cinta

September 12th, 2007 by ipin4u

I_love_uJatuh cinta di luar pernikahan sebenarnya bukan hanya problema kita. Tetapi hal yang sama juga pernah dirasakan oleh seorang Nabi sekalipun. Sebutlah Nabi Yusuf as misalnya. Beliau pun pernah merasakan jatuh cinta. Bahkan dengan seorang wanita yang sudah jadi istri seseorang. Kalau bukan jatuh cinta, paling tidak tertarik dan terpesona kepadanya.

Dalam surat ke-12 yaitu surat Yusuf, romatika kisah beliau diceritakan dengan tuntas. Bagaimana awal prosesnya, konfliknya hingga klimaks dan endingnya. Jadi bila kita merasakan hal-hal seperti itu, justru hal itu sangat manusiawi sekali. Dan orang sekaliber nabi pun bisa saja saja mengahadapi konflik seperti itu.

Justru apa yang dialami oleh seorang nabi itu menjadi pelajaran buat kita untuk bagaimana bertindak dan menghadapinya. Apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as tidak lain adalah beliau sadar dan mengerti betul bahwa hal itu terlarang, meski ada gejolak dalam hati. Bahkan dorongan itu dinyatakan dalam Al-Quran:

Dan sungguh wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan itu dengan Yusuf dan Yusuf pun telah bermaksud melakukan pula dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. (QS. Yusuf: 24)

Tapi memang kondisi itu tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya Yusuf pun telah berusaha untuk menolaknya ketika wanita itu terus merayunya.

Yusuf berkata, “Aku belindung kepada Allah. Sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesunggunya orang zalim tidak akan beruntung”. (QS Yusuf: 23).

Dan ketika gejolak nafsu sudah tak tertahan lagi di dada wanita itu, maka nabi Yusuf pun dikejarnya. Langkah yang dilakukan oleh beliau tidak lain adalah mengambil langkah seribu.

Kisah Nabi Yusuf ini menjadi pelajaran yang sangat penting buat kita manakala kita dihadapkan pada situasi yang sama.

1. Bahwa setiap orang pasti memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya. Rasa itu sebenarnya sangat manusiawi dan merupakan fithrah dan sekaligus anugerah.

2. Namun gejolak itu harus diatur sedemikian rupa agar tidak membawa diri ini ke jurang kenistaan. Seseorang tidak boleh diperbudak oleh gejolak jiwanya. Merana karena angan-angan semu. Karena gejolak jiwa itu selalu mengajak kepada keburukan. “Innan nafsa la ammaaratun bis-suu”.

Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu nafsu yang diberi rahmat oleh Allah (Yusuf: 53)

3. Sebenarnya pada titik dimana seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya dan mengharapkan terbalas cintanya, ada sebagian dari akal dan logikanya yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang tadinya dimikili menjadi disfunction, ngadat dan tidak jalan. Fenoma ini baru akan terasa manakala misalnya seseorang sudah menikah dan berumah tangga dengan orang yang tadinya dicintainya dan dikejarnya setengah mati. Tetapi begitu pasangan ini sudah memasuki dunia rumah tangga yang sebenarnya, cinta dan nafsu yang dulunya menggebu itu menjadi sesuatu yang biasa saja.

Kalau dulu, pagi sore siang malam yang muncul di benak hanya namanya, tepi setelah masuk ke dunia yang sesungguhnya gejolak itu hilang sudah berganti dengan rutinitas dan bisa jadi kebosanan. Dan itulah sifat manusia. Sebelum dimiliki dikejar setengah mati, begitu dimiliki hilanglah pesonanya. Biar seganteng atau secantik apapaun dia.

Karena itu bila mencintai seseorang, cintailah dengan sewajarnya, karena siapa tahu nanti kita akan membencinya. Dan sebaliknya, bila membenci seseorang, bencilah sewajarnya, karena siapa tahu nanti kita akan mencintainya.

4. Tidak semua yang diinginkan itu harus terpenuhi. Tidak semua cita harus terkabul. Dan tidak semua gejolak harus dituruti. Dunia adalah sejumlah pilihan. Bila tidak bisa menggapai salah satunya, maka pilihan yang lain masih banyak, bahkan bisa jadi lebih baik.

5. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik dan tidak semua yang kita anggap indah itu indah. Segala sesuatu pasti ada cacat dan cela. Saat jatuh cinta, cacat dan cela tiada. Padahal bisa jadi cacat dan celanya jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.

6. Puncak masalah pernikahan itu bukan lah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi bagaimana kita bisa survive di dalamnya, siapa pun pasangan kita.

Sumber: syariahonline.com (dengan sedikit modifikasi)

Kesalahan yang Sering Di Bulan Ramadhan

September 12th, 2007 by ipin4u

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, musim berbagai macam ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, bersede-kah, berbuat baik, dzikir, do’a, istighfar, memohon Surga,  berlindung dari masuk Neraka serta macam-macam ibadah dan amal kebajikan lainnya.

Orang yang beruntung adalah yang menjaga setiap detik waktunya, baik di siang atau malam hari untuk berbagai amal perbuatan yang menjadikannya berbahagia serta lebih dekat kepada Allah, sesuai dengan yang diperintahkan, tanpa menambah atau mengurangi. Karena itu, setiap muslim wajib belajar tentang hukum-hukum puasa.

Sayangnya, tak sedikit orang yang melalaikan masalah ini, sehingga banyak terjerumus pada kesalahan-kesalahan. Di antara kesalahan-kesalahan yang jamak (umum) dilakukan orang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah:


1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya. Padahal Allah berfirman: "Maka bertanyalah kepada orang yang  mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui." (An-Nahl: 43).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya." ( Muttafaq Alaih).

2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main. Padahal yang seharusnya  adalah menyambut bulan yang mulia tersebut  dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah, karena masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah serta melakukan muhasabatun nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

3. Ta’at hanya di bulan Ramadhan. Sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi jika bulan Ramadhan telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan  maksiat.  Alangkah  celaka  golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah Ta’ala kecuali di bulan Ramadhan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Tuhan bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah Satu jua?  Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah Ta’ala mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat nashuha (sebenar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan kuat untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Dengan demikian insya Allah taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka diampuni.

4. Beranggapan keliru. Sebagian orang beranggapan bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari, serta untuk begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah Ta’ala, berhura-hura, bermain yang sia-sia (seperti main kartu dsb.), menggunjing, adu domba dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.
Sesungguhnya hari-hari bulan Ramadhan merupakan  saksi  ta’atnya  orang-orang yang  ta’at  dan saksi maksiatnya orang-orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

5. Bersedih dengan datangnya bulan Ramadhan. Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jika bulan Ramadhan berlalu. Sebab mereka beranggapan bulan Ramadhan akan menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain daripada bulan Ramadhan. Padahal ia adalah bulan penuh barakah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari Neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

6. Begadang untuk sesuatu yang tidak terpuji. Banyak orang yang begadang pada malam-malam Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung sahur kemudian tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat  Shubuh berjamaah pada waktunya. Ada banyak kesalahan dan kerugian dari perbuatan semacam ini:

a. Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum Isya’ dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi  berkata, hadits ini hasan).

b. Sia-sianya waktu mereka yang sangat berharga. Mereka sama sekali tidak  memanfaat-kannya sedikitpun. Padahal masing-masing orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah Ta’ala di dalamnya.

c. Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.
Musibah  terbesar mereka  adalah tidak dapat menunaikan shalat Shubuh berjamaah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala shalat Shubuh berjamaah menyamai shalat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:"Barangsiapa shalat Isya’  berjamaah maka seakan-akan ia shalat separuh malam dan barangsiapa shalat Shubuh  berjamaah maka seakan-akan ia shalat sepanjang (satu) malam." (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu).

Orang yang meninggalkan shalat Shubuh secara berjamaah tersebut berkarakter sebagaimana orang-orang munafik,  mereka tidak melakukan shalat kecuali dalam keadaan malas, mengakhirkan waktunya dan tidak berjamaah. Mereka  mengharam-kan dirinya dari mendapatkan keutamaan serta pahala yang besar.

7. Hanya menjaga hal-hal lahiriah. Banyak orang yang menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan, minum dan bersenggama dengan isteri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara mak-nawiyah seperti menggunjing,  adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalanan, di toko, di pasar dan sebagainya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang shalat, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali begadang dan letih saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al Bukhari).

8. Meninggalkan shalat taraweh. Padahal telah dijanjikan bagi  orang  yang  menjalankannya  -karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala-  ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat taraweh berarti  meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.
Ironinya, banyak umat Islam yang meninggal-kan shalat taraweh. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, shalat taraweh hanyalah sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Khulafaur Rasyidin dan para Tabi’in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqarrub  (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala, dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan  Allah Ta’ala kepada hambaNya. Orang yang meninggalkannya berarti tidak mendapatkan bagian daripadanya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan shalat taraweh itu bertepatan dengan turunnya Lailatul Qadar, sehingga ia mendapatkan keberuntungan dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

9. Puasa tetapi tidak shalat. Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat. Sebab shalat  adalah  tiang dan pilar utama agama Islam.

10. Bepergian agar punya alasan berbuka. Sebagian orang melakukan perjalanan ke luar negeri pada bulan Ramadhan untuk tujuan  yang  baik, tetapi agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir.

Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Allah Ta’ala tipu daya orang-orang yang suka menipu. Sebagian besar orang yang melakukan hal tersebut adalah para tukang mabuk dan minum-minuman keras. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjauhkan kita dari yang demikian.

11. Berbuka dengan sesuatu yang haram. Seperti minuman yang memabukkan, rokok dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram  tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do’anya dikabulkan

Akhirnya, semoga uraian ini menjadi bahan renungan kita bersama di bulan yang mulia dan suci ini, sekaligus bisa menghantarkan kita mengarungi kehidupan di bulan Ramadhan  -baik dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari-  sebagaimana yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala meneguhkan iman Islam kita, mengampuni kita, orang tua kita dan segenap kaum muslimin. Amin….

Sumber: myQuran.org

Menghidupkan Ramadhan

September 12th, 2007 by ipin4u

I. Amaliyah Ramadhan

Satu-satunya bulan yang di sebutkan dalam Al-Quran adalah bulan ramadhan. Penyebutan bulan ramadhan di kaitkan dengan turun nya Al-Quran dan di wajibkannya puasa. seakan satu isyarat dari Allah Swt. bahwa untuk meraih kesucian, cahaya dan lautan ilmu Al-Quran, hati orang beriman harus suci dan bersih, dan itu dapat diraih dengan berpuasa. Al-Quran menjadi pedoman bagi orang yang bertaqwa dan puasa mengantarkan orang beriman menjadi mutaqqiin. Amaliah ramadhan terfokus pada dua aktifitas tersebut. sedangkan amaliah lain nya tidak lepas dari ibadah untuk mengkondisikan hati dalam menerima Al-Quran dan upaya orang beriman untuk mengaplikasikan Al-Quran.

Untuk lebih mengetahui amaliyah ramadhan, maka kita harus melihat dan mencontoh amaliyah Rasulullah saw. di bulan ramadhan. Secara prinsip Rasulullah lebih memperbanyak dan meningkatkan ibadah di bulan ramadhan, dari mulai shaum, sholat, tilawah, dzikir, i’tikaf dan lain-lain. di bawah ini amaliyah yang di lakukan Rasulullah saw. di bulan ramadhan.


1. Shiyam (puasa)


Shaum atau shiyam bermakna menahan, dan menahan itulah aktivitas inti dari puasa. Menahan makan dan minum serta segala macam yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai tengelam matahari dengan di iringi niat. Jika aktifitas ini dapat dilakukan dengan baik, maka seorang muslim memiliki kemampuan pengendalian, yaitu pengendalian diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah.

A. Memahani fikih shiyam

Setiap ibadah dalam islam pasti ada fikih nya, begitu juga shiyam. Maka memahami fiqih dalam setiap ibadah adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh di tinggalkan orang-orang yang beriman. Dengan fiqih inilah, puasa yang dilakukan oleh umat islam benar-benar bernilai ibadah dan bukan tradisi yang di lakukan hanya sekedar ikut-ikutan tanapa mengetahui adab-adab nya dan segala sesuatu yang terkait dengan puasa. Bukankah banyak umat islam yang berpuasa cuma ikut arus orang banyak dan tradisi yang berjalan secara turunan temurun?

"… barang siapa berpuasa ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan di ampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan…" (HR Bukhori dan muslim).

B. Mengetahui awal dan akhir ramadhan dengan benar

Salah satu yang perinsip dan harus di ketahui oleh setiap muslim adalah pengetahuan tentang awal dan akhir ramadhan, sehingga ibadah yang di lakukan nya sesuai sunnah Rasul saw. Dalam beberapa hadits Rasulullah telah menetapkan awal dan akhir ramadhan, beliau bersabda:


"… puasalah kamu jika melihat bulan, dan berbukalah kamu jika melihat bulan. jika terhalang ( mendung ) maka sempurnakan bilangan nya…" (HR Bukhiri dan Mualim).

C. Tidak berbuka tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat islam

Seorang muslim yang di bulan ramadhan tidak berpuasa dan berbuka tanpa alasan syar’i, maka dia telah melakukan doa besar, karena puasa ramadhan adalah salah satu dari rukun islam. Rasulullah saw bersabda:

"… barang siapa tidak puasa pada bulan ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa di tebus, bahkan seandai nya ia berpuasa salama satu tahun…" (HR At-turmudzi)

D. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam

Puasa merupakan pengendalian diri dari segala sesuatu yang haram, syubhat, dan perkataan serta perbuatan yang tidak terpuji. Rasulullah bersabda:


"… barang siapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan memapraktekannya, maka tidak ada nilai nya bagi Allah, apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalakan makan dan minum…" (HR Bukhori dan Muslim).

E. Bersungguh-sungguh puasa karena Allah Swt dengan keyakinan penuh akan kebaikan-kebaikan nya


Rasulullah bersabda:


"… barang siapa berpuasa seharian di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajah nya dari api neraka selama 70 tahun…" (HR Bukhori dan Mualim).

F. Bersahur


Rasulullah bersabda:
"… makan sahurlah, karena pada makan sahur ada keberkahan…" ( HR Muslim )
G. Ifthar (berbuka puasa)


Ketika waktu magrib telah tiba, yakin saat matahari telah terbenam, maka saat itulah waktu berbuka. Sangat di tekankan kepada yang berpuasa untuk segera berbuka puasa.

H. Berdoa


Sesudah menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthar, Rasulullah Saw sebagaiman yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan satu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a.


2. Berinteraksi dengan Al-Quran

Ramadhan adalah bulan di turunkan A-Quran (Qs 2:185) pada bulan ini Al-Quran benar-benar turun ke bumi untuk menjadi pedoman manusia dalam segala macam aktivitas nya di dunia

.
"… sebaik-baik nya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkan nya…"(HR At-tirmidzi).

3. Qiyam ramadhan (sholat tarawih).


Ibadah yang sangat di tekankan Rasulullah Saw di malam ramadhan adalah Qiyam ramadhan. Qiyam ramadhan diisi dengan shalat malam atau yang biasa di kenal dengan sahalat tarawih. Rasulullah bersabda:

"… barang siapa yang emalakukan qiyam ramadahan dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dasa nya yang telah lalu…" (HR Bukhori Dn Muslim).

4. Memperbanyak dzikir, do’a dan istighfar

Bulan ramadhan adalah bulan di mana kebaikan pahala nya di lipatgandakan. Oleh karena itu jangan membiarkan waktu sia-sia tanpa aktivitas yang berarti.

5. Do’a dan istighfar pada saat mustajab

- saat berbuka
- sepertiga malam terakhir
- memperbanyak istighfar pada waktu sahur
- mencari waktu mustajab pada hari jum’at yaitu pada saat terakhir pada sore hari jum’at
- duduk dan dzikir, do’a dan istighfar di masjid

6. Shadaqa, infak dan zakat

Rasulullah adalah orang yang paling pemurah dan di bulan ramadhan beliau lebih pemurah lagi. kebaikan Rasulullah di bulan ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyak.

7. Menuntut ilmu dan menyampaikannya


Bulan ramadhan adalah saat yang paling baik untuk menuntut ilmu keislaman dan mendalaminya. Karena di bulan ramadhan hati dan pikiran sedang dalam kondisi bersih dan jernih, sehingga sangat siap menerima ilmu-ilmu Allah Swt. Maka waktu-waktu seperti bada shubuh, bada dhuhur dan menjelang berbuka sangat baik sekali untuk menuntut ilmu. Pada saat yang sama para ustadz dan dai meningkatkan aktifitas nya untuk berdakwah menyampaikan ilmu kepada umat islam yang lain.

8. Umrah

Umrah pada bulan ramadhan juga sangat baik di laksanakan, karena akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, sebagaimana yang di sebutkan dalam hadis Rasulullah kepada seorang wanita dari golongan anshar yang bernama ummu sinan:

‘… agar apabila datang bulan ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilai nya setara dengan haji bersama Rasulullah Saw…" (HR Bukhori dan Muslim).

9. I’tikaf

I’tikaf adalah puncak ibadah di bulan ramadhan. Karena pada hakekat nya inti ibadah ramadhan adalah upaya menahan diri dari makan dan minum dan segala sesuatu yang membatalkan nya di siang hari, dengan harapan dapat menahan diri dari segala yang di haramkan oleh Allah. Dan i’tikaf bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan dari untuk tetap tinggal di masjid taqqrrub kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala aktifitas keduniaaan.

10. Mencari lailatul qodar

Lailatul qodar merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada umat islam melalui Rasul-Nya. Malam ini nilai nya lebih baik dari seribu bulan biasa. Ketika kita beramal dari malam itu berarti seperti beramal dalam seribu bulan.

11. Menjaga keseimbangan dalam ibadah

keseimbangan dalam beribadah adalah sesuatu yang prinsip. Walaupun umat islam melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah di bulan ramadhan, tetapi tetap saja harus menjaga keseimbangan.

Sumber: myQuran.org